Mobile Menu

navigasi

More News

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap UKM

September 06, 2021

 


Pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia pada bulan Maret tahun 2020 yang merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus dari kota Wuhan. Semenjak saat itu, jalannya perekonomian di Indonesia mulai terganggu. Dampak pandemi paling terasa terjadi pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sejumlah daerah khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu UMKM yang mengaku usahanya mengalami penurunan adalah UMKM tempe milik bapak Usairi dan keluargannya yang sudah dijalankan selama lebih dari 10 tahun.


Usaha yang ada di Desa Serut Madurejo Kecamatan Prambanan ini adalah salah satu UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) yang bergerak dibidang produksi tempe. Bapak Usairi menjelaskan bahwa usaha ini sebenarnya usaha turun menurun yang sudah dijalankan oleh kedua orangtuanya. Namun bapak Usairi baru mengembangkan usahanya dalam 10 tahun ini. Bapak Usairi merasa pandemi ini merupakan sebuah tantangan besar bagi usahannya karena semasa pandemi ini harga kedelai impor menjadi naik, sedangkan penjualan tempenya menurun. Omzet yang didapat bapak Usairi dimasa pandemi ini juga menurun drastis. 


Dalam menjual tempe ke masyarakat bapak Usairi dibantu isrinya yaitu ibu Khuzaimah Ariyanti untuk mempromosikan atau menyetorkan ke warung-warung yang sudah menjadi langganan sehari-hari. Bapak Usairi memberi tahu bahwa tempe yang ia jual merupakan hasil olahannya sendiri. Bapak Usairi menjelaskan bahwa ia mengimpor kedelai lalu mengolahnya sendiri sehingga menjadi tempe yang layak untuk dijualbelikan. Bagi bapak Usairi saat harga kedelai yang terus naik adalah menjadi suatu tantangan tersendiri. 


“Semenjak adanya pandemi Covid-19 ini saya memproduksi tempe menjadi menurun hingga 50% padahal dulu kami bisa produksi tempe lebih dari 1 kwintal”. Ujar bapak Usairi. 


Bapak Usairi juga menjelaskan proses kesehariannya dalam mengolah tempe. Perlu waktu kurang dari 2 hari waktu pengolahan tempe agar menghasilkan tempe yang siap dimasak. 


“Pembuatan tempe yang pertama mulai dari kedelai dicuci bersih lalu direbus sempai matang lalu direndam selama satu malam. Terus kedelai digiling untuk memisahkan kulit ari dengan kedelainnya lalu kedelai ditiriskan. Selanjutnya kedelai diberi ragi dan siap untuk dikemas”. Jelas bapak Usairi terkait proses pembuatan tempe. 

     


   

Dulu, sebelum masa pandemi bapak Usairi menceritakan bahwa usahannya bisa memiliki banyak pelanggan. Ia mengatakan bahwa itu menjadi berbeda ketika pandemi Covid-19 menyerang, keadaan penjual bisa sangat sepi oleh pembeli. Banyak warung warung yang memilih tutup dikarenakan warung yang biasanya ramai pelanggan kini menjadi sepi pelanggan bahkan hanya satu atau dua orang saja yang mampir ke warung untuk membeli dagangan yang mereka jual. Menurutnya, ini disebabkan dari adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan kegiatan Masyarakat) di Yogyakarta yang terus diperpanjang akibat dari melonjaknya virus Covid-19. 


Bapak Usairi pastinya berharap pandemi virus Covid-19 dapat segera berakhir sehingga semua pemilik usaha UMKM (Usaha mikro, kecil, dan menengah) dapat kembali berjualan seperti hari hari biasa sebelum adanya pandemi virus Covid-19 dan harga kedelai sebagai bahan utama dari pembuatan tempe bisa kembali normal seperti dulu. Dampak pandemi Covid-19 ini sangat terasa bagi pemilik usaha kecil seperti bapak Usairi. 


Frisca Fika Amalia dan Ignatius Soni Kurniawan (UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA) Mahasiswa Prodi Manajemen 


Komentar 0
Sembunyikan Komentar

0 σχόλια:

Posting Komentar