BandungPerjalanan Gayatri melalui Beasiswa BPI menunjukkan bagaimana kesempatan pendidikan dapat membuka jalan baru bagi seorang guru di daerah. Gayatri Nurnaningrum merupakan guru SD Negeri Nagrak 02, Kabupaten Bandung.

Ia telah mengajar sejak 2005. Awalnya, Gayatri menjalani profesinya sebagai guru honorer. Kemudian, pada 2019, ia diangkat menjadi guru PNS.

Namun, Gayatri tidak berhenti belajar. Ia ingin meningkatkan kemampuan agar dapat memberikan pembelajaran yang lebih baik kepada siswanya.

Perjalanan Gayatri Melalui Beasiswa BPI

Gayatri mengajar di sebuah sekolah negeri di pedesaan. Jumlah siswanya tidak banyak. Selain itu, fasilitas sekolah masih terbatas.

Meski demikian, kondisi tersebut justru memperkuat keinginannya untuk melanjutkan pendidikan.

Pada Mei 2023, Gayatri mendatangi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Saat itu, ia mencari informasi mengenai seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia untuk jenjang S2.

Usahanya membuahkan hasil. Gayatri berhasil menjadi penerima BPI untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Program Studi Pendidikan Dasar jenjang magister.

BPI Membuka Kesempatan untuk Berkembang

Sebagai penerima BPI, Gayatri memperoleh kesempatan menjadi mahasiswa penuh waktu.

Beasiswa tersebut mendukung berbagai kebutuhan studinya. Dukungan mencakup biaya pendaftaran, UKT, penelitian, kedatangan, buku, serta biaya hidup.

Karena itu, Gayatri dapat lebih fokus meningkatkan kemampuan akademiknya.

Tidak hanya belajar di kelas, ia juga aktif dalam komunitas awardee BPI UPI. Komunitas tersebut rutin mengadakan pelatihan penulisan ilmiah dan berbagi pengalaman tentang seminar internasional.

Dipercaya Terlibat dalam Konferensi Internasional

Perlahan, perjalanan Gayatri melalui Beasiswa BPI membawanya menuju pengalaman baru.

Gayatri dipercaya menjadi Koordinator Seksi Acara pada 7th International Conference on Elementary Education (ICEE) yang digelar Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UPI.

Selain itu, ia menjadi salah satu Master of Ceremony dalam konferensi tersebut.

Pada penyelenggaraan berikutnya, Gayatri mendapat kepercayaan baru. Ia menjadi salah satu moderator yang mendampingi pembicara undangan.

Pengalaman tersebut memperluas kemampuan Gayatri dalam kepemimpinan, koordinasi, dan komunikasi akademik.

Karya Gayatri Tembus Forum di Jepang

Pencapaian berikutnya datang pada tahun kedua kuliah.

Artikel Gayatri diterima dalam 2025 13th International Conference on Information and Education Technology di Fukuyama, Jepang. BPI kemudian memberikan persetujuan pendanaan untuk keikutsertaannya.

Penelitiannya membahas peningkatan kemampuan menulis bahasa Inggris siswa sekolah dasar melalui model pembelajaran RADEC dengan Canva.

Melalui konferensi itu, Gayatri dapat berdiskusi dengan akademisi dari berbagai negara. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan berbagai inovasi pendidikan yang berkembang di dunia.

Artikel Masuk Jurnal Internasional Bereputasi

Prestasi Gayatri tidak berhenti pada konferensi.

Ia juga memperoleh pendanaan publikasi untuk artikel pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1. Gayatri menjadi penulis kedua dalam artikel mengenai penulisan narasi lokal melalui Project-Based Learning.

Proses tersebut tidak mudah. Publikasi internasional membutuhkan waktu, tenaga, dan ketekunan.

Namun, Gayatri tetap memanfaatkan kesempatan yang tersedia melalui BPI.

Sempat Mengalami Kecelakaan

Tantangan besar muncul ketika Gayatri sedang menyelesaikan tesis.

Ia mengalami kecelakaan hingga mengalami patah tulang dan harus menjalani operasi. Kondisi tersebut membuat proses penyelesaian studi menjadi semakin berat.

Meski demikian, Gayatri tetap mengerjakan revisi tesis selama masa pemulihan.

Akhirnya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan tepat waktu pada 2025. Gayatri bahkan memperoleh yudisium dengan pujian. Saat menghadiri wisuda, ia masih menggunakan kursi roda.

Kembali Mengajar di Sekolah yang Sama

Setelah kondisinya membaik, Gayatri kembali ke tempat awal perjuangannya.

Ia kembali mengajar di sekolah kecil yang sama di Kabupaten Bandung.

Namun, pengalaman yang dibawanya kini jauh lebih luas. BPI telah mempertemukannya dengan komunitas akademik, forum internasional, serta berbagai gagasan baru dalam dunia pendidikan.

Gayatri pun ingin menerapkan ilmu tersebut untuk mengatasi berbagai masalah pembelajaran di kelas.

Dengan demikian, perjalanan Gayatri melalui Beasiswa BPI tidak berhenti ketika ia memperoleh gelar magister. Pengalaman tersebut justru kembali bermuara pada ruang kelas sederhana tempat ia mengajar dan mendampingi anak-anak di pedesaan.