Bandung – Tim peneliti Institut Teknologi Bandung mengembangkan Geolini, seismograf digital buatan ITB yang dapat digunakan untuk merekam aktivitas gempa bumi. Menariknya, perangkat tersebut mampu menangkap sinyal gempa dari jarak hingga ribuan kilometer.
Inovasi ini dikembangkan untuk mendukung penelitian dan pendidikan kegempaan di Indonesia. Selain itu, Geolini dirancang sebagai perangkat modular berbasis teknologi dalam negeri.
Pengembangan tersebut menjadi penting karena Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Oleh karena itu, ketersediaan perangkat pengamatan gempa menjadi bagian penting dalam penelitian kebencanaan.
Geolini Jadi Seismograf Digital Buatan ITB
Geolini dikembangkan oleh tim dari Kelompok Keahlian Geofisika Global ITB.
Dr. Ir. Zulfakriza menjadi salah satu peneliti utama dalam pengembangan perangkat tersebut. Selain itu, proyek Geolini melibatkan Andri Dian Nugraha, Astyka Pamumpuni, dan Rexha Verdhora Ry.
Pengembangannya juga tidak dimulai dalam waktu singkat.
ITB telah melakukan penguatan inovasi perangkat Geolini setidaknya sejak 2024. Kemudian, pengembangan berlanjut melalui proyek Geolini: Seismograf Modular Berbasis Inovasi Dalam Negeri yang Berdampak pada Penelitian dan Pendidikan Kegempaan di Indonesia pada 2025.
Mampu Merekam Gempa Ribuan Kilometer
Salah satu kemampuan menarik Geolini adalah jangkauan perekamannya.
Menurut publikasi ITB, seismograf digital portabel tersebut mampu merekam gempa hingga jarak ribuan kilometer. Dengan demikian, perangkat dapat membantu peneliti memperoleh data seismik dari berbagai kejadian gempa.
Selain gempa besar, seismograf juga memiliki peran penting dalam mengamati getaran tanah.
Data yang diperoleh selanjutnya dapat dianalisis untuk memahami karakteristik gelombang seismik. Oleh sebab itu, perangkat seperti Geolini dapat mendukung berbagai kegiatan penelitian kebumian.
Dibuat dengan Konsep Modular
Tidak hanya mengandalkan kemampuan perekaman, Geolini, seismograf digital buatan ITB, juga dikembangkan menggunakan konsep modular.
Pendekatan tersebut membuat pengembangan perangkat dapat disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan pendidikan.
Bahkan, ITB telah mengembangkan perangkat lunak pendukungnya. Catatan resmi ITB menunjukkan adanya hak cipta untuk Geolini Converter dan Geolini Realtime Software sejak 2023.
Dengan demikian, inovasi Geolini tidak hanya berfokus pada perangkat keras. Sistem pengolahan dan pemantauan data juga menjadi bagian dari pengembangannya.
Mendukung Riset Kegempaan Indonesia
Kehadiran Geolini memiliki potensi besar untuk penelitian kegempaan.
Tim penelitinya aktif mengembangkan berbagai studi terkait struktur bawah permukaan, sesar aktif, gunung api, hingga mitigasi gempa. Beberapa penelitian juga memanfaatkan jaringan seismograf untuk mempelajari wilayah seperti Cianjur, Jakarta, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Selain itu, teknologi seismograf dapat membantu mahasiswa memahami proses perekaman gelombang gempa secara langsung.
Karena itu, Geolini memiliki dua fungsi penting. Perangkat ini dapat mendukung penelitian sekaligus menjadi sarana pendidikan kebencanaan.
Inovasi Teknologi Kebencanaan Dalam Negeri
Pengembangan Geolini menunjukkan kemampuan peneliti Indonesia dalam menciptakan perangkat geofisika sendiri.
Proyek ini bahkan tercatat dalam Science and Technology Index atau SINTA sebagai inovasi unggul berdampak pada 2025. Riset tersebut secara khusus diarahkan untuk mendukung penelitian dan pendidikan kegempaan Indonesia.
Selanjutnya, pengembangan teknologi lokal dapat membantu memperluas penggunaan instrumen seismik untuk berbagai kebutuhan.
Dengan karakter portabel dan modular, Geolini, seismograf digital buatan ITB, menjadi salah satu inovasi yang berpotensi memperkuat ekosistem riset kebencanaan nasional.